Bedhoyo Tunggal Jiwo Tampil Memukau, Filosofi Manunggaling Kawulo Gusti Jadi Sorotan

www.pariwisata.demakkab.go.id

Demak – Tari Bedhoyo Tunggal Jiwo merupakan sendra tari yang tercipta atas permintaan Mantan Bupati Demak Sukarlan pada tahun 1989 kepada Koreografer kenamaan Demak, Almh. Dyah Purwani Setianingsih, S.Pd., M.Pd. Tarian sakral sarat makna tersebut dipentaskan sebagai pelengkap atraksi budaya dalam Perayaan Upacara Adat Grebeg Besar Demak di Pendopo Satya Bhakti Praja, Rabu (27/5/26).

Tarian yang dibawakan sembilan penari gadis itu menjadi penyambut kehadiran Kanjeng Bupati Bintoro Demak dalam prosesi pelepasan iring-iringan Prajurit Patang Puluhan menuju Kadilangu untuk menghantarkan minyak jamas yang digunakan dalam Penjamasan Pusaka Kanjeng Sunan Kalijaga.

Menurut Almh. Dyah Purwani Setianingsih, Tari Bedhoyo Tunggal Jiwo memiliki makna jiwa yang selalu terpusat kepada Sang Pencipta melalui konsep Manunggaling Kawulo Gusti. Sepeninggal sang koreografer, tarian ikonik tersebut kini dibawakan Sanggar Karnelis Budhoyo bersama Sanggar Padma Baswara di bawah asuhan Tampan Rama Putra Karnelis selaku ponakan sang pencipta tari.

Selain menyuguhkan nilai estetika, tarian ini juga menjadi simbol ketulusan dan tanggung jawab seorang pemimpin kepada Tuhan maupun rakyatnya demi kemajuan Bintoro Demak. Pemilihan Gending Lir Ilir turut menjadi pengingat ajaran Kanjeng Sunan Kalijaga tentang perjalanan hidup manusia menuju hakikat kehidupan.

Terpisah, Kepala Dinparta Demak, Endah Cahya Rini menyampaikan bahwa Tari Bedhoyo Tunggal Jiwo merupakan bagian penting dalam menjaga warisan budaya dan spiritual masyarakat Demak.

“Tarian ini tidak hanya menjadi sajian budaya dalam Grebeg Besar, namun juga sarat nilai filosofi, pendidikan karakter, serta pengingat ajaran luhur para Wali yang terus hidup di tengah masyarakat,” pungkasnya.(Dinparta/jm)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1