

Demak – Terdiri dari banyaknya rangkaian acara jelang puncak Grebeg Besar sejak awal bulan Mei, tradisi adat Ancakan di area Pendopo Notobratan yang turut dihadiri Asisten II Agus Musyafak, Asisten III Amir Mahmud, serta Forkopimda, Selasa (26/5/26), menjadi salah satu prosesi menarik yang selalu dinanti masyarakat.
Pakem dan keautentikannya yang terus dijaga oleh para Waris Kanjeng Sunan Kalijaga tersebut, pada tahun ini dibuka dengan pertunjukan gerak rampak tegas dari kelompok PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate) Cabang Demak sebagai persembahan penyambutan bagi kedatangan Bupati beserta rombongan.
Asisten II, Agus Musyafak menyampaikan bahwasannya makna dari sego ancakan yang diletakkan di atas rangkaian bambu yang disebut ancak dan dikemas serta ditutup daun jati, sekaligus didoakan secara langsung oleh Ahli Waris Kanjeng Sunan Kalijaga, HR. Muhammad Cahyo Iman Santoso, menjadi simbol rasa syukur atas keberkahan yang diberikan Alloh S.W.T kepada Kabupaten Demak dan masyarakatnya selama ini.
Ditambahkan olehnya, warga yang telah berkumpul di area Pendopo Notobratan diimbau untuk tetap bersabar, tertib dan kondusif saat prosesi perebutan sego ancakan yang telah disiapkan para abdi dalem Kasepuhan Kadilangu sejak pagi hari.
Sementara, Ka.Dinparta Demak, Endah Cahya Rini menyampaikan bahwa tradisi Ancakan bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan warisan budaya sarat makna yang menjadi simbol kuat kebersamaan, rasa syukur serta pelestarian nilai-nilai luhur peninggalan para leluhur Demak.
“Tradisi seperti Ancakan ini menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya Kabupaten Demak. Antusiasme masyarakat yang selalu tinggi setiap tahunnya membuktikan bahwa warisan budaya lokal tetap hidup dan dicintai lintas generasi,” ujarnya.
Setelah sambutan dari Asisten II Agus Musyafak, prosesi dilanjutkan dengan pemukulan gong oleh Ahli Waris Kanjeng Sunan Kalijaga, HR. Muhammad Cahyo Iman Santoso sebagai simbolisasi dibukanya acara Ancakan Grebeg Besar Demak 2026 secara resmi.(Dinparta/jm)






