Menggali Sejarah dan Benda Benda di Museum Glagahwangi Demak

www.pariwisata.demakkab.go.id

Demak – Pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten demak, Muh Sudadi menyampaikan tentang informasi mengenai sejarah peresmian museum Glagah Wangi Demak beserta penemuan beberapa benda bersejarah di Museum.

Salah satu benda yang menurutnya epik dan menarik untuk diinformasikan, adalah sebuah keberadaan benda yang pada jaman dahulu dipergunakan sebagai alat filter air yang dikonsumsi untuk minum warga Demak tempon dulu, jum\’at (5/1/24).

“Museum Glagah wangi demak adalah bagian dari UPTD Dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten demak yang terletak di jalan sultan fatah no. 53 masih jadi satu dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, bangunan ini adalah bangunan cagar budaya yang dimana arsitektur bangunannya masih menggunakan kayu jati. Hal ini nampak dari bahan dasar bangunannya yang di mulai dari alas, dinding maupun atap yang masih menggunakan sirap dari kayu.”kata Sudadi

Lanjutnya, Program Museum Glagahwangi ini sudah di gagas sejak tahun 1998, untuk menjadi lokasi penempatan barang barang peninggalan jaman dahulu. Bahkan sempat ada usaha yang dilakukan Pemkab.Demak untuk berkolaborasi dengan pihak pengelola Museum MAD (Masjid Agung Demak untuk dijadikan satu kesatuan. Namun, kebijakan untuk mendirikan museum secara terpisah diambil oleh pihak pengelola MAD (Masjid Agung Demak).

Adanya kebijakan tersebut, membuat Museum Glagahwangi berdiri sendiri untuk dikelola oleh Pemkab. Demak, sejak tahun 2008. Prosesi peresmiannya pun, pada tahun 2008 dihadiri oleh Bupati Demak kala itu, H.Tafta Zani.

Bangunan yang kini ditetapkan pula sebagai salah satu Cagar Budaya Kab. Demak, menyimpan beberapa barang peninggalan, berupa gentong woro wiri, rebab kyai gareng, fosil , patung siwa dan filter air yang terbuat dari dua batu.

Ditambahkan olehnya, filter air yang dipergunakan pada abad XIV, jaman Kasultanan Bintoro tersebut, memiliki susunan batu yang berada diatas, dengan ukuran, lebar diameter atas 31 x 31 cm, tinggi kerucut 55 cm, ketebalan 0,6 cm, Jari-jari 25 cm dan tebal dinding 3 cm. Batu yang berposisi di atas ini, berfungsi sebagai sebagai pemurni air, Sedangkan batu yang berada di bawah, dengan diameter bulat lubang panjang jari jari 54 cm, tinggi 33 cm dan tebal dinding 5 cm, berfungsi sebagai tempat tadah air suling jernih yang dapat dikonsumsi warga kala itu.(Dinparta/jm/JMY)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Lainnya

[related_posts_berita]
1
Scroll to Top