Arti Kiasan Logo Solidaritas 18

www.pariwisata.demakkab.go.id

Demak – Saka Pariwisata Kwarcab Demak akan menyelenggarakan kegiatan ” Sarasehan Online dari oleh untuk kita semua ” Solidaritas 18. Adapun logonya juga memiliki makna yang tersurat dan tersirat. Filosofi dan ideologis perlu kita ketahui bersama tentang jasa besar Sri Sultan Hamengkubuwono dan RA Kartini serta berbarengan dengan persiapan lebaran.

Berikut arti logo Solidaritas 18 yaitu gambar surya majapahit sebagai lambing hasta brata. Surya majapahit itu juga merupai hiasan pada ujung tusuk konde yang dilambangkan perjuangan kaum wanita yang disimbolkan RA. Kartini. Candi Bajang Ratu merupakan representasi Saka Pariwisata sebagai penyellenggara.

Tunas kelapa disebelah kiri dan pandu disebelah kanan melambangkan setiap anggota Gerakan Pramuka ikut serta melaksanakan pengembangan diri juga bisa dikatakan dinamis. Segi empat ditengah melambangkan ketupat yang diidentikan lebaran.

Bentuk surya majapahit menggambarkan dalam kegiatan solidaritas 13 RA Kartini dan Sri Sultan Hemengkubuwono IX merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dari pulau jawa. Kedua tokoh tersebut sebagai tema kegiatan ini bersamaan hari lebaran Idul Fitri.

Warna kuning melambangkan masa keemasan yang mana antara Solidaritas 1 dan 18 terjadi pada even yang sama. Warna hitam melabangkan kegigihan setiap pramuka yang selalu menempa diri untuk terus berkembang. Hitam dan kuning tersirat makna habis gelat terbitlah terang. Persiapan menuju generasi emas bangsa Indonesia di satu abad Kemerdekaan Indonesia di Tahum 2045.

Jika diartikan secara menyeluruh seperti ini kegiatan Solidaritas 18 di adakan Saka Pariwisata dengan mengambil Tema hari Bapak Pramuka Indonesia dan hari Kartini serta hari lebaran. Kegiatan Solidaritas ini akan dilaksanakan tanggal 6 April 2023.

Logo tersebut juga tersirat makna pemuda pemudi Indonesia adala masa keemasan untuk senantiasa belajar dalam menyiapkan masa depan. Selanjutnya sebagai pemuda kita harus mampu bersaing secara global namun tetap berperilaku dengan kearifan budaya lokal. (Dinpar/Eza)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1
Scroll to Top