Webinar Pengguna Instrumen Pembayaran Non Tunai Berbasis Digital

www.pariwisata.demakkab.go.id
\"\"/
\"\"
\"\"
\"\"


Di tengah-tengah pandemi covid-19 salah satu cara pemerintah melakukan sosialisasi dengan melaksanaan Seminar online via Zoom Atau Webinar. Rabu 24 Juni 2020 pelaksaan webinar dengan Thema : Penggunaan Instrumen Pembayaran Non Tunai Berbasis digital di masa pandemi covid- 19 untuk industri Pariwisata yang diikuti oleh pelaku usaha pariwisata dan Dinas Pariwisata Kota/ Kabupaten dan Provinsi . Kegiatan berlangsung mulai jam 09.30 Wib sampai dengan selesai dengan narasumber dari:

  1. Bank Indonesia
  2. Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.
  3. Bank Mandiri Kanwi VII Semarang.
    Dalam pengantar pembukanya Suko Wardoyo dari Bank Indonesia menyampaikan bahwa pandemi covid – 19 telah mematikan kegiatan dibanyak bidang dan industri : Kesehatan, perekonomian, Perbankan , Perdagangan, dan Pariwisata dan lainnya. Sedangkan dampak penutupan destinasi wisata sendiri berdampak pada industri transportasi, perhotelan, restoran, swalayan maupun UKM. Secara nasional telah ditetapkan bahwa sekarang ini kita berada dalam fase New Normal di tengah pandemi Covid- 19 . yaitu tatanan baru dalam kehidupan selanjutnya dengan pandemi covid-19 dengan penerapan protokol kesehatan. Kuwajiban bersama untuk membangkitkan kembali kegiatan di Bidang yang terdampak covid – 19. Salah satunya di Bidang Pariwisata. Bank Indonesia telah mengemas bagaimana sistim pembayaran yang efektif dan mudah dan dapat diberlakukan disemua Negara yaitu dengan lounching \” QRIS\” Alat pembayaran digital yang mudah. Dengan \” QRIS \” mengurangi terjadi kontak antara petugas dan pengunjung / fisical distancing. \” QRIS \” memberi kemudahan alat bayar yang dapat digunakan diseluruh penjuru negara.
    Dari Disporapar Jawa Tengah disampaikan oleh Kepala Disporapar yaitu Drs. Sinoeng Rachmadi, MM.
    Saat ini kondisi Destinasi Wisata di Jawa Tengah 90 % kondisi baik, 7 % rusak kendala terkait mekaniktik dsn 3 % terbengkelai. Destinasi di Jawa Tengah belum direkomendasikan untuk dibuka sebelum melalui prosedur yang telah ditetapkan. Borobudur dan Prambanan yang telah melakukan simulasi namun masih belum dibuka untuk wisatawan. Dalam petunjuk teknis ( SOP) pengelola usaha pariwisata untuk memulai memberlakukan riket secara online ( e- ticheting) guna meminimalisir resiko penularan covid- 19 serta untuk memudahkan kontrol jumlah pengunjung disuatu destinasi serta untuk keperluan tracing bilamana dalam kondisi darurat. Melalui pembayaran non tunai ( Ches less) lebih aman , efektif sistim kontrol cepat dan tepat. Pengelola dapat melibatkan pihak ke 3 dalam hal ini ( bisa Traveloka, Trivago, Booking.com, Tiket.com atau pembuatan aplikasi lainya ). Beberapa pengelola wisata di Jawa Tengah telah menerapkan e- ticheting dengan pembayaran Cash less. Sistim tersebut cara yang tepat diterapkan di tengah pandemi covid – 19. Selanjutnya disampaikan bahwa Pengelola wisata harus memenuhi prosedur yang ditetapkan oleh pemerintah sebelum dibuka untuk wisatawan serta memastikan sudah sesuai protap dan yakin untuk keamanan petugas. Diakhir materinya disampaikan saat ini pemerintah telah berupaya membantu para pengelola wisata yang terdampak covid-19 melalui permohonan penundaan pembayara listrik dan kuwajiban pembayaran lainnya kepada Instansi terkait serta dukungan perbankan dan lembaga keuangan untuk memberikan kemudahan. Pesan akhir :
    \” Simulasi itu penting, Koordinasi dan konsultasi itu mutlak \”.

Berita Lainnya

[related_posts_berita]
1
Scroll to Top