Sejarah Pangeran wijil terkait erat dengan keturunan Kanjeng Sunan Kalijaga. Kanjeng sunan merupakan salah satu walisongo yang menyebarkan agama islam dengan mengasimilasi budaya jawa. Pangeran wijil diambilkan dari keturunan putra lurus Sunan Kalijaga terhitung dari cucu yang mengejawantahkan ajaran Kanjeng sunan Kalijaga.
Wijil bisa diartikan juga generasi putra atau keturunan Kalijaga di hitung dari cucu. Sunan Kalijaga mempunyai lima anak Rara ayu Pambayun yang diperistri sultan Trenggono, Rara Ayu Panenggak, Pengeran Hadi atau panembahan Kali, pangeran Abdur Rahman dan Dewi Asmarawati yang diperistri Ki Ageng Ngerang.
Singkat cerita dari Pangeran Hadi mempunyai cucu panembahan wijil yang menjabat dari tahun 1645 – 1727 M. Setelah dari keturunan panembahan wijil ini disebut dengan pangeran Wijil yang turun temurun menjabat secara bergantian.
Pangeran wijil 1 menjabat dari tahun 1728 – 1747 M dan memiliki 21 anak, pangeran wijil 1 kemudian mengambangkan pemerintahannya dan meninggal serta dimakamkan di Surakarta. Pangeran wijil 1 terkenal sebagai seorang pemimpin yang cakap, cerdas, adil dan cicintai rakyatnya.
Sepeninggal Pangeran Wijil 1 kemudian kepemimpinan dilanjutkan dengan pangeran Wijil 2 selama 32 tahun dari tahun 1747-1779. Pangeran wijil 2 ini terkenal sebagai seorang seniman dan budayawan yang hebat serta senang mengkoleksi dan menyimpan pusaka. Pangeran wijil 2 memiliki 4 anak, setelah meninggal pangeran wijil dimakamkan di Pecaon Kadilangu.
Kemudian secara berturut setelah meninggal pangeran wijil 2 diganti wijil 3 dilanjutkan pangeran wijil 4 dan pangeran wijil 5. Pangeran wijil 3 mempunyai sebelas anak dan memimpin sejak 1808-18-11. Pangeran wijil 4 memiliki 6 anak dan memimpin sejak tahun 1816-1824. Terakhir pangeran Mijil 5 mempunyai 32 anak dan memimpin 1824-1880. Pangeran mijil 3-5 terkenal sebagai pemimpin yang arif dan dicintai rakyat dan ketiganya di makamkan di Kadilangu.
Meninggalnya pangeran wijil 5 selanjutnya keturunan memimpin dan dikenal dengan sebutan sesepuh Kadilangu yang bertempat di Pendopo ageng Notobratan. Keturunan Sunan Kalijaga secara turun temurun menjadi kasepuhan sebagai ahliwaris kanjeng sunan Kalijaga sampai sekarang. Seusai Demak menjadi Kabupaten maka ali waris kanjeng Sunan Kalijaga atau kasepuhan berfungsi sebagai penasehat bupati.(Dinpar/Eza)


