SAKA GURU MASJID AGUNG DEMAK

www.pariwisata.demakkab.go.id
\"\"

Saka guru (atau soko guru dalam bahasa Jawa) adalah empat tiang utama yang terdapat pada bangunan tradisional Jawa, seperti pendopo, rumah adat, dan masjid. Ia berfungsi untuk menyangga gaya berat atap. Empat tiang utama memiliki makna simbolik yang penting dan terkadang dianggap memiliki kekeramatan. Ruang di bawahnya dipercaya sebagai ruang sakral sehingga kerap digunakan untuk kegiatan tertentu. Konstruksi saka guru terdapat pada bangunan dengan atap tipe joglo atau tipe tajug. Atap jenis joglo diperuntukkan bagi rumah para bangsawan, sedangkan atap jenis tajug diperuntukkan untuk bangunan suci misalnya masjid.

Masjid Agung Demak memiliki Saka guru yang sudah melegenda dan sudah terkenal diseluruh nusantara. Saka guru yang memiliki filosofi empat pegangan bagi umat islam, yakni Alqur’an, hadis, Ijma’ dan qiyas. Kalo dalam kepercayaan saka guru memiliki makna 4 orang yang harus kita hormati secara hakiki yaitu kedua orangtua kita dan kedua mertua kita. Karena dari merekalah kita berasal dan turun ke bumi se izin Allah SWT. Sehingga bisa disimpulkan ini adalah rasa bhakti anak kepada orangtuanya.

Saka guru di Masjid Agung Demak merupakan tiang utama dari kayu jati yang berfungsi menyangga kerangka serta atap masjid. Saka guru dibuat oleh Wali Songo ketika mendirikan masjid tersebut. Ada 4 soko guru dengan tinggi masing-masing sekitar 17 meter. \”Raden Patah bersama para Wali Songo membangun masjid ini. Angka 17 meter ini memiliki makna ada kewajiban kita menjalankan sholat 17 rakaat dalam sehari semalam.

Keempat saka guru ini berdiri kokoh di ruang utama masjid yang dikonstruksi di empat penjuru arah. Saka guru barat laut merupakan sumbangan Sunan Sunan Bonang dan saka guru timur laut sumbangan Sunan Kalijaga. Sementara saka guru arah tenggara, sumbangan Sunan Ampel dan saka guru sebelah barat daya merupakan sumbangan dari Sunan Gunung Jati. Berdasarkan cerita yang disadur dari Babad Demak, saka guru yang dibuat Sunan Kalijaga memiliki keunikan dibandingkan tiga saka guru lainnya

Saka ini sering disebut sebagai saka \’tatal\’ atau tiang yang disusun dari serpihan kayu dengan cara dipasak dan diikat menjadi batang tiang besar dengan menggunakan perekat damar. Setelah kokoh, ikatannya dilepas dan teksturnya dihaluskan. Keempat saka ini menahan beban bagian atap tertinggi. Sedangkan untuk menopang tajug yang lebih rendah, juga masih terdapat tiang di sekeliling saka guru.

Berita Lainnya

[related_posts_berita]
1
Scroll to Top