KOLAM WUDLU BERSEJARAH DI MASJID AGUNG DEMAK

Kolam wudlu Masjid Agung Demak merupakan situs peninggalan sejarah masa Kasultanan Demak. Ada banyak kisah sejarah di kolam tersebut. Selain digunakan untuk berwudlu Walisongo, kolam wudlu tersebut pernah dijadikan tempat sayembara untuk menentukan sultan ke 4 di Kasultanan Demak Bintoro.

“Kolam wudlu atau blumbang itu, pertama untuk wudlu para santri Raden Fatah, sebelum menjadi sultan, yaitu sebagai pengasuh pondok pesantren Glagah Wangi. Termasuk digunakan berwudlu untuk orang-orang berjamaah di masjid, Raden Fatah dan Walisongo. Sejarahnya, termasuk juga mengantarkan seseorang menjadi sultan selanjutnya, pergantian sultan, yaitu Mas Karebet atau Jaka Tingkir,”. Jaka Tingkir merupakan keturunan Brawijaya V dan menantu dari Sultan Trenggono. Yaitu Jaka Tingkir merupakan putra dari Raden Kebo Kenongo, yakni dari Putra Raden Buyut yang merupakan keturunan atau keluarga Brawijaya V. Selain itu lanjutnya, Jaka Tingkir merupakan menantu dari Sultan Trenggono, yaitu istri Jaka Tingkir yaitu adik dari Ratu Kalinyamat. “Jaka Tingkir juga menjadi tokoh senopati perang, atau kepala keamanan di Kasultanan Demak Bintoro,”

Pada saat masa jeda atau kekosongan pemimpin di Kasultanan Demak Bintoro, setelah Sultan Trenggono wafat, yang ditunjuk sebagai pemimpin yaitu Sunan Prawoto atau Sunan Bagus Mukmin yang menjabat kurang lebih 3 tahun.”Ketika dinobatkan secara resmi, beliau tidak mau. Beliau lebih memilih kesufiannya atau kedekatannya dengan sang Kholik. Sehingga tabuk kepemimpinan itu diserahkan kepada adiknya, namanya Kalinyamat. Yakni seorang istri Adipati Jepara, Pangeran Hadiri dari Kasultanan Sumenep. Sehingga Ratu Kalinyamat lah sang memegang Kasultanan Demak Bintoro saat itu.

“Sampai jeda selesai, Walisongo melihat supaya pemerintahan Kasultanan Demak Bintoro ini tetap berjalan dengan baik, tidak terjadi perselisihan, maka perlu adanya seorang pemimpin yang memang sah atau raja yang sah seperti dulu,” sambungnya.Lanjutnya, lalu Walisongo menimbang, kalau adu kekuatan atau perang dengan fisik, itu akan menjadi bumerang atau pertumpahan darah di Kesultanan Demak Bintoro. Kemudian, Walisongo mengambil hikmah dengan membuat sayembara atau lomba.

“Lombanya berbunyi, barang siapa yang bisa meloncati kolam wudlu ini dengan pegang tombak dan membelakangi, atau mundur, maka semuanya harus lego legowo. Atau harus ikhlas, pada siapapun atau pihak manapun akan dinobatkan menjadi sultan ke empat di Kasultanan Demak Bintoro”. Itu bukan hanya diikuti oleh keluarga besar raja atau kasultanan, tidak, dari masyarakat jelata pun boleh. Karena menurut Walisongo yang bisa tetap orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ternyata sejarah menyampaikan, yang bisa hanya Jaka Tingkir. Melompat dengan pegangan tombak dan mundur. Akhirnya beliaulah, Jaka Tingkir dinobatkan sebagai sultan ke empat di Kasultanan Demak Bintoro dengan gelar Sultan Hadiwijoyo,