GREBEG BESAR

Garabeg, Grebeg, dan Gerbeg Kata bahasa Jawa Garebeg, grebeg, gerbeg, bermakna : suara angin yan memderu. Kata bahas Jawa (h)anggarebeg, mengandung makna mengiring dan dikepung. Grebeg bisa juga diartikan digiring, dikumpulkan, dan dikepung. Jadi grebeg bisa berarti dikumpulkan dalam suatu tempat untuk kepentingan yang khusus. Adapun grebeg Besar seremonial yang terkenal di Demak, kata “ Besar ” adalah mengambil nama bulan yaitu bulan Besar (Dzulhijjah). Maka makna Grebeg Besar adalah kumpulnya masyarakat Islam pada bulan Besar, sekali dalam setahun, yaitu untuk suatu kepentingan dakwah Islamiyah di Masjid Agung Demak.
Prosesi Grebeg Besar Demak
 Ziarah ke makam Sultan-Sultan Demak & Sunan Kalijaga

Grebeg Besar Demak diawali dengan pelaksanaan ziarah oleh Bupati, Muspida dan segenap pejabat dilingkungan Pemerintah Kabupaten Demak, masing-masing beserta istri/suami, ke makam Sultan-sultan Demak dilingkungan Masjid Agung Demak dan dilanjutkan dengan ziarah ke makam kanjeng Sunan Kalijaga di Kadilangu. Kegiatan ziarah tersebut dilaksanakan pada jam 16.00 WIB; kurang lebih 10 (sepuluh) hari menjelang tanggal 10 Dzulhijah.
 Selamatan Tumpeng Sembilan

Selamatan Tumpeng Sembilan dilaksanakan pada malam hari menjelang hari raya Idul Ad’ha bertempat di Masjid Agung Demak. Sebelumnya kesembilan tumpeng terebut dibawa dari Pendopo Kabupaten Demak dengan diiringi ulama, para santri, beserta Muspida dan tamu undangan lainnya menuju ke Masjid Agung Demak. Tumpeng yang berjumlah sembilan tersebut melambangkan Wali Sanga yang diserahkan Bupati kepada Ta’mir Masjid Agung Demak untuk dibagikan para pengujung. Dalam prosesi tumpeng sembilan selalu dipenuhi oleh warga masyarakat yang ingin “Ngalap Berkah” dengan mengharap mendapat bagian dari tumpeng yang dibagikan tersebut.

 Prajurit Patangpuluhan

Prajurit Patangpuluhan adalah prajurit yang pada masa dulu merupakan pasukan elit Kerajaan Demak Bintoro berjumlah 40 orang. Pasukan ini merupakan pasukan Pengawal Raja Demak yang dipimpin oleh seorang Manggolo Yudho yang disebut “Lurah Tamtomo”, dengan dua orang pengapit (ajudan). Terdapat pula seorang Wiro tamtomo dan 3 Bintoro.
Tugas prajurit Patang puluhan ini adalah mengawal minyak jamas dan bunga setaman pemberian dari Raja Demak Bintoro yang sekarang disimbolkan oleh bupati Demak yang akan diberikan kepada ke Sesepuh Kadilangu Demak untuk menjamas pusaka peninggalan Sunan Kalijaga, berupa keris Kiyai carubuk dan Kotang Ontokusumo. Sesepuh Kadilangu adalah Ahli Waris Trah Sunan kalijaga.

 Penjamasan Pusaka Peninggalan Sunan Kalijaga

Penjamasan pusaka-pusaka tersebut didasari oleh wasiat Sunan Kalijaga sebagai berikut ”agemanku, besuk yen aku wis dikeparengake sowan engkang Maha Kuwaos, salehna neng duwur peturonku. Kajaba kuwi sawise uku kukut, agemanku jamas ana”. Dengan dilaksanakan penjamasan tersebut, diharapkan umat Islam dapat kembali ke fitrahnya dengan mawas diri/mensucikan diri serta meningkatkan iman dan taqwa Kepada Allah SWT.
Prosesi penjamasan diawali dari Pendopo Kabupaten Demak, dimana sebelumnya dipentaskan pagelaran tari Bedhoyo Tunggal Jiwo. Melambangkan “Manunggal kawulaning gusti”, yang dibawakan oleh 9 ( sembilan ) remaja putri. Dalam perjalanan ke Kadilangu minyak jamas dikawal oleh Bhayangkara kerajaan Demak Bintoro “Prajurit Patangpuluhan” dan diiringi kesenian tradisional Demak.